Selasa, 03 Februari 2015

Tender Impor Minyak Sonangol Dipertanyakan Komisi VII DPR


JAKARTA - Vice President Integrated Supply Chain (ISC) Pertamina Daniel Purba mengatakaan bahwa impor minyak mentah perdana dari Sonangol EP sudah bisa diterima ISC pada Akhir Januari 2015. Sedang ISC Pertamina sudah melakukan tender pengadaan impor "Crude Oil" pada Kamis (22/1) lalu.
Adapun saat ini minyak impor Sonangol prosesnya sedang diangkut kapal yang disewa Pertamina. Namun Ketua Komisi VII DPR Kardaya Warnika mengaku tidak menahu impor minyak Sonangol yang sedang berjalan itu. Ia pun kontan mempertanyakan transparansi Menteri ESDM Sudirman Said dan Dirut Pertamina.

Menurut Kardaya, pembelian minyak mentah dari Sonangol EP diumumkan Presiden Joko Widodo dengan alasan adanya beberapa keuntungan seperti diskon yang banyak karena pembelian langsung dari pemerintah ke pemerintah. "Namun hingga saat ini kami belum mengetahui kelanjutan transparansi impor minyak Sonangol itu," ujar Kardaya di gedung DPR RI Jakarta, Rabu (28/1). 

Dirinya juga mengatakan informasi yang didapat terkait impor minyak itu tidak jelas, karena cenderung Pertamina tertutup. Karena itu Kardaya belum tahu pasti apakah impor minyak mentah itu memang dari Sonangol EP atau dari Sonangol China. "Kalau impor minyaknya melalui Sonangol China berarti ada broker lagi. Padahal yang kita tahu, setiap ada broker berarti ada biaya tambahan bagi Indonesia, begitu juga tender crude oil yang dilaksanakan ISC Pertamina," terang Kardaya.

Ia menambahkan, Menteri ESDM Sudirman Said dan VP ISC Pertamina Daniel Purba harus bisa transparan dalam pembelian impor minyak sesuai janjinya mereka dalam reformasi migas sebelumnya.
Ditegaskan Kardaya pula, ISC Pertamina khususnya Vice President Daniel Purba harus memegang prinsip transparansi, mengumumkan penawar dengan harganya, beli dengan harga termurah, jangan main akal akalan dengan bicara metode pembelian atau perhitungan yg kompleks dan harus masuk akal publik
"Secara organisasi ISC berada di dalam Pertamina. Artinya, kalau mereka tidak transparan maka ibertentangan dengan janji Menteri ESDM Sudirman Said dan Dirut Pertamina Dwi Soetjipto, bahkan bertentangan dengan rekomendasi Tim Reformasi Migas yang dipimpin Faisal Basri," pungkas Kardaya yang politisi Partai Gerindra itu.

Untuk diketahui, tender minyak mentah ISC Pertamina untuk  periode April 2015 dalam rangka pemenuhan kilang pengolahan. Namun semua itu, dilakukan tidak transparan, dan terkesan ditutupi. Karena itulah sampai sekarang belum diumumkan pemenang tender itu. 

Semua itu terjadi karena diduga masih terjadi tarik menarik antar kepentingan didalamnya dalam rangka memenuhi pesanan untuk memenangkan perusahaan tertentu, meski penawarannya jauh diatas rata-rata.

source:indopos

Tidak ada komentar:

Posting Komentar